Hadits Shahih Bukhari Nomor 2027 (Kitab Jual Beli)

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُزَابَنَةِ قَالَ وَالْمُزَابَنَةُ أَنْ يَبِيعَ الثَّمَرَ بِكَيْلٍ إِنْ زَادَ فَلِي وَإِنْ نَقَصَ فَعَلَيَّ قَالَ وَحَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ فِي الْعَرَايَا بِخَرْصِهَا : صحيح البخاري {٢٠٢٧}

Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Al Muzaabanah. Dia berkata: “Al Muzaabanah adalah seseorang menjual buah dengan takaran, jika lebih maka berarti keuntunganku dan bila kurang berarti resikoku”. Dia berkata: Dan telah menceritakan kepada saya Zaid bin Tsabit bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kelonggaran pada ‘ariyah dengan taksiran”. (‘Ariyah jama’nya ‘aroya adalah menjual kurma yang masih dalam tangkainya di kebun dengan taksiran sehingga ketika waktu berlalu menjadi banyak, pent). { Shahih Bukhari 2027 }

Tinggalkan komentar