Hadits Sunan Abu Daud Nomor 258 (Kitab Thaharah)

حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ سُمَيٍّ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ أَنَّ الْقَعْقَاعَ وَزَيْدَ بْنَ أَسْلَمَ أَرْسَلَاهُ إِلَى سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ يَسْأَلُهُ كَيْفَ تَغْتَسِلُ الْمُسْتَحَاضَةُ فَقَالَ تَغْتَسِلُ مِنْ ظُهْرٍ إِلَى ظُهْرٍ وَتَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ فَإِنْ غَلَبَهَا الدَّمُ اسْتَثْفَرَتْ بِثَوْبٍ قَالَ أَبُو دَاوُد وَرُوِيَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ تَغْتَسِلُ مِنْ ظُهْرٍ إِلَى ظُهْرٍ وَكَذَلِكَ رَوَى دَاوُدُ وَعَاصِمٌ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ امْرَأَتِهِ عَنْ قَمِيرَ عَنْ عَائِشَةَ إِلَّا أَنَّ دَاوُدَ قَالَ كُلَّ يَوْمٍ وَفِي حَدِيثِ عَاصِمٍ عِنْدَ الظُّهْرِ وَهُوَ قَوْلُ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَالْحَسَنِ وَعَطَاءٍ قَالَ أَبُو دَاوُد قَالَ مَالِكٌ إِنِّي لَأَظُنُّ حَدِيثَ ابْنِ الْمُسَيَّبِ مِنْ ظُهْرٍ إِلَى ظُهْرٍ إِنَّمَا هُوَ مِنْ طُهْرٍ إِلَى طُهْرٍ وَلَكِنَّ الْوَهْمَ دَخَلَ فِيهِ فَقَلَبَهَا النَّاسُ فَقَالُوا مِنْ ظُهْرٍ إِلَى ظُهْرٍ وَرَوَاهُ مِسْوَرُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَرْبُوعٍ قَالَ فِيهِ مِنْ طُهْرٍ إِلَى طُهْرٍ فَقَلَبَهَا النَّاسُ مِنْ ظُهْرٍ إِلَى ظُهْرٍ : سنن أبي داوود {٢٥٨}

Telah menceritakan kepada kami Al Qa’nabi dari Malik dari Sumayya, mantan sahaya Abu Bakar bahwasanya Al Qa’qa dan Zaid bin Aslam mengutusnya untuk bertanya kepada Sa’id bin Al Musayyib: Bagaimanakah cara mandi wanita mustahadlah? Dia menjawab: Cukup mandi sekali untuk shalat Dhuhur sampai Dhuhur esok hari dan cukup dengan berwudhu saja untuk setiap kali shalat. Apabila darahnya membuatnya kewalahan, maka hendaklah dia menutupnya dengan kain. Abu Dawud berkata: Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Anas bin Malik: bahwa dia mandi dari Dhuhur hingga Dhuhur berikutnya. Demikian pula diriwayatkan oleh Dawud dan Ashim dari Asy Sya’bi dari Istrinya dari Qamir dari Aisyah, hanya saja Dawud menyebutkan: setiap hari. Sedangkan di dalam hadits Ashim: Ketika Dhuhur. Ini adalah pendapat Salim bin Abdullah dan Al Hasan dan ‘Atha`. Abu Dawud berkata: Malik berkata: Saya benar-benar menyangka hadits Ibnu Al Musayyib adalah dari keadaan suci hingga keadaan suci berikutnya. Akan tetapi masuk wahm (keraguan) padanya, sehingga orang-orang menggantinya dengan menyebutkan: dari Dhuhur hingga Dhuhur berikutnya. Dan diriwayatkan oleh Miswar bin Abdul Malik bin Sa’id bin Abdurrahman bin Yarbu’, dia menyebutkan padanya: dari keadaan suci hingga keadaan suci berikutnya, namun orang-orang menggantinya dengan menyebutkan: dari Dhuhur hingga Dhuhur berikutnya. { Sunan Abu Daud 258 }

Tinggalkan komentar